Fajar Menyingsing di Blora. (chapster 1 : Sepasang Pendekar Glagah Kembar) bag.1.
The Power to be your best ternyata tak ku duga, di sini mulai cerita

2012.3579 - 223.GIG
KRONOLOGIS KARYA » FAJAR MENYINGSING DI BLORA. (CHAPSTER 1 : SEPASANG PENDEKAR GLAGAH KEMBAR) BAG.1. ± Cerita Bersambung - Legenda © GigihSantosa. Posted : 2012-03-30 : 09:05:43 (3059 hari 14:04:47 lalu) HITS : 2071 Mutiara Sukma Portal Karya Seni dan Sastra lyrict-lagu-pilihan-lama ()
  RESENSI :
Cerita yang digali dari negeri sendiri, dimana sebuah kepahlawanan muncul dengan sendirinya, hanya berpegang sebuah keyakinan tentang kebenaran.
Mutiara Sukma Situs Karya Seni dan SastraKarya inspirasi ini bebas dibagikan
  SELENGKAPNYA :
Fajar Menyingsing di Blora. (chapster 1 : Sepasang Pendekar Glagah Kembar) bag.1. GigihSantosa .--    Sore itu Winarti bangun dengan kepala masih berat, keningnya berdenyut dan dirasakan seperti mau pecah. Winarti pun merungut tak persis apa yang dikatakanya. Semalam benar benar malam yang naas bagi winarti dan rombonganya, karena terlampau mabuknya winarti sampai sampai dirinya tidak tahu bahwa  rombonganya telah menjadi korban perampokan.
Sebagai penari tayub panggilan, winarti cukup punya nama di tlatah  blora sampai  purwadadi. Namanya tak diragukan lagi bagi laki laki di kedua daerah itu, kecantikanya yang diatas rata rata, ditunjang dengan kulit sedikit kuning, winarti bak bidadari bila dimalam hari.
Apalagi tarian tayubnya yang begitu luwes dan merak ati.
Para demang dan lurahpun banyak yang tergila gila oleh posananya. Winarti juga sedikit banyak bisa berbahasa belanda, tak dipungkiri Winarti juga langganan para meneer kumpeni bila ada para meneer itu mengadakan pesta resmi maupun tidak resmi. Singkat kata Winarti memang berbeda dengan penari tayub kebanyakan.

Setelah mandi dan sedikit minum wedang ronde buatan pembantunya, winarti merasakan kepalanya sedikit berkurang sakitnya, ingatanya masih kejadian semalam disaat ada pesta di kediaman demang Paten njurang. Memang winartilah sebagai penari utama tanggapan tayub tersebut. Keasyikanya menghibur para tamu, penontonpun membludak, saking semangatnya, winarti tak menolak ketika satu dua gelas tuak  meghampirinya. 
Malam itu winarti memang minum lebih banyak dari biasanya, tarianyapun sudah tak memakai pakem pakem tari tayub yang benar, dan yang seperti  itulah yang sangat dinanti-nanti oleh para penonton atau penanggapnya, winartipun seperti ular naga yang meliuk liuk bermain bola api diangkasa. Sekejab terbang tinggi, dan sekejab menukik menyambar nyambar menakjubkan. Sesungguhnyalah bila laki laki melihat winarti menari pasti akan terkagum kagum dibuatnya hingga mulut mereka menganga tanpa mereka sadari.
Tak urung duit saweran telah memenuhi di sela sela belahan dadanya. Sampai di kedalaman kotangnyapun sudah penuh dengan lembar lembar gulden. Winartipun tambah semangat,tak dihiraukanya lagi tangan tangan jahil yang menggerayangi disukujur badanya, persetan dengan mereka, batin winarti. Toh yang aku butuhkan duit mereka, terserah yang mereka mau kepada tubuhku, asal mereka sanggup membayarnya.

Tiada pesta yang tak akan usai, pepatah mengatakanya. Ditabuh terakhir (sekitar pukul 03.30 waktu sekarang) pentas tayubpun usai. Saking mabuknya winarti sudah tak kuat berdiri lagi. Berapa teman satu rombonganya segera memapahnya masuk ke kademangan.
Para centeng centeng demang paten jurangpun tak luput dibuat blingsatan ketika jarit yang dikenakan winarti sedikit tersingkap. Pemandangan itu segera berakhir ketika nyai demang paten jurang datang dan membenahi letak jarit seperti sedia kala. Rombongan tayubpun segera berpamitan kepada yang empunya hajad. Dengan dua dokar yang tersedia, rombongan itu perlahan telah meninggalkan kademangan paten njurang.
Winarti masih terlelap ketika fajar akan  segera menyingsing, perjalanan rombongan itu telah sampai dibulak randu alas. Didepan terbentang bulak yang cukup panjang yang membatasi antara kademangan paten jurang dan kademangan wirosari.
Ditengah bulak itu terdapat pohon randu alas yang tinggi menjulang. Jarang manusia berani lewat dibulak ini di malam hari. Mereka yang akan melakukan perjalanan ke kedua kademangan itu memilih berjalan melingkar melewati desa kalisat ataupun desa alas gembel, dikarenakan bulak itu sering terjadi perampokan ataupun sekedar takut akan isyu gendruwo penunggu randu alas yang konon adalah gendruwo bermata satu dan matanya merah meyala semerah saga.
Dengan pertimbangan fajar sudah mulai mekar, juga adanya dua centeng kademangan paten jurang yang mengawal atas suruhan demang mereka. Rombongan tayub itupun mengambil resiko melewati bulak randu alas dengan santainya. Akan tetapi apa yang terjadi diluar perkiraan mereka. Rombongan tayub yang didalamnya ada sinden kondang yang bernama Winarti itu ternyata tetap menjadikan intaian dua pasang mata yang bersembunyi di parit disebelah jalan itu.
Sesungguhnyalah mereka adalah begal yang sering beroprasi diwilayah blora dan dan purwadadi. Terutama jalan bulak antara kademangan paten njurang dengan kademangan wirosari, dan masih banyak bulak bulak lagi yang menjadi pilihan mereka untuk mencari  mangsanya.
 
Sekejap kilat dua orang yang berpakaian hitam hitam dan juga bercadar itu telah menghentikan laju rombongan tayub Winarti.
”Berhenti” seperti kuda kuda mereka, para penumpang dokar itupun dibuat alangkah terkejutnya.
Tak ayal kuda kuda itupun meringkik sambil mengangkat kedua kaki depanya tinggi tinggi, goncangan dari perilaku kuda yang kaget, menjadikan rombongan itupun ada yang terjatuh.
Terjerembab di tanah yang basah oleh embun semalaman.
Centeng yang dipercaya mengawal rombongan itu juga sempat terjatuh. Tetapi tak begitu lama dia Nampak langsung bisa menguasai diri. Segera meloncat dan bersiap menghadapi segala kemungkinan. Nampaknya centeng itu juga punya sedikit kepandaian olah kanuragan, tak rugi demang paten jurang menyewa mereka menjadi pengawal khusus kademangan.
Selanjutnya inilah yang terjadi.
Tak banyak yang dikatakan oleh dua orang begal yang berpakaian hitam hitam serta bercadar itu.
”Bondho opo nyowo” Harta atau nyawa teriak salah satu begal itu. Tak ada jawaban dari seorangpun dari rombongan tayub itu, hanya saja dua orang centeng itu telah maju dengan menghunus sebilah golok tajam yang dalam keremangan fajarpun masih Nampak mengkilat keputih putihan tanda saking tajamnya.
“Oh ternyata ada yang mau minta mati, berani beraninya menghadapi begal Guntur geni” Salah satu begal itu berbicara dengan logat sinis memandang sebelah mata centeng centeng piaraan demang paten jurang.
Akan tetapi memang nama itu mempengaruhi nyali kedua centeng itu dan terlebih rombongan tayub winarti. Ada penabuh gamelan (wiyaga) yang sudah terkencing kencing dicelana.
Begal Guntur Geni sangatlah terkenal sakti mandra guna, julukan itu memang bukan omong kosong, banyak korban korban dari pihak kompeni/belanda ataupun saudagar saudagar kaya yang telah menjadi sasaranya. Isyunya begal Guntur geni tak mempan oleh peluru, senjata andalan para kumpeni.
Naas terjadi di fajar yang dingin itu.  Bagi kedua centeng paten jurang itu terutama. Tak sempat kedua centeng itu mengibaskan goloknya, dengan sekali gebrakan kedua centeng itu telah terjatuh mencium tanah dangan dada membiru terkena pukulan begal Guntur geni.
Tak butuh waktu lama kedua centeng itu telah terima nasib meregang nyawa.
”Ampunn ndoro begal…ampun….kami minta kawelasan” Kepala rombongan tayub winarti menghiba sambil melata diatas tanah tanda Takluk total yang disertai ketakutan yang sangat mencekam hatinya.
“Kalian tau yang kami cari, cepat serahkan harta benda kalian” Tak beberapa lama rombongan itu benar benar meyerahkan semua harta benda mereka yang mereka miliki saat itu. Tak luput uang tanggapan dan juga uang saweran telah mereka serahkan semua.
Dari pada itu winarti tak tau apa yang terajadi dikarenakan tetap terlelap saking mabuknya. Pengaruh tuak masih membelenggunya.
Sekilas kedua begal yang berjuluk begal Guntur geni itu melihat winarti yang tidur nyenyak dibagian dokar belakang dari kedua dokar yang membawa rombongan tayub itu,..walapun tertidur tapi kecantikan winarti tetap tak luntur,diterangi matahari pagi yang mulai muncul,kecantikan dan keindahan tubuh winarti sempat membuat ada perasaan lain terhadap wanita itu,...
”Siapa wanita itu?” Tanya salah satu begal Guntur geni yang sedikit tinggi tubuhnya agak lebih tinggi dari yang lain.
”Oh ini winarti ndoro” Sahut kepala rombongan tayub itu.
”Winarti?” hampir berbarengan kedua begal itu manampakan kekagetanya.
”Winarti penari tayub terkenal itu?” Tanya Bengal Guntur geni yang bertubuh lebih pendek.
”Injih ndoro kaleresan” jawab kepala rombongan tayub.
Begal Guntur Geni tak menghiraukan lagi. Tak beberapa lama kedua begal itu bersuit, dan tiba tiba telah muncul dua kuda hitam legam yang gagah,dan dengan ketangkasan yang jarang tiada duanya,begal Guntur geni secepat kilat telah berada dipunggung kuda itu.
”Kalian aku lepaskan hidup, kalian boleh melapor kepada siapa saja tentang apa yang terjadi kepada kalian, begal Guntur geni akan tetap menjadi klilip (ancaman) dikabupaten blora ataupun purwodadi".
Begal Guntur geni segera menarik tali kekang kuda dan segera menghentakanya, secepat kilat kedua kuda itu berlari dan segera menghilang disebuah kelokan diujung bulak randu alas.



Yogyakarta, 2012-03-30 : 09:05:43
Salam Hormat
Gigih Santosa

Gigih Santosa mulai gabung sejak tepatnya Minggu, 2012-02-26 09:57:36. Gigih Santosa dilahirkan di Gunung mempunyai motto Hidup adalah jalan untuk kembali kepada Nya.
Cerita Bersambung : 9 Karya
Cerita Pendek : 14 Karya
Prosa : 1 Karya
Puisi : 6 Karya
Kisah Nyata non Privacy : 1 Karya
Total : 31 Karya Tulis
Kastil Cinta Ku, 2020-08-14 | 23:10:30
DAFTAR KARYA TULIS Gigih Santosa
Isi Komentar Fajar Menyingsing di Blora. (chapster 1 : Sepasang Pendekar Glagah Kembar) bag.1. 3579
Nama / NameEmail
Komentar / Comment
BACK




ATAU berikan Komentar mu untuk karya Fajar Menyingsing di Blora. (chapster 1 : Sepasang Pendekar Glagah Kembar) bag.1. 3579 di Facebook



Terimakasih
KASTIL CINTA KU ,



CORNER KASTIL CINTAKU Mutiara Sukma
Kesuksesan adalah mengembangkan kekuatan kita, Kegagalan adalah akumulasi dari kelemahan kita.
MIS Mutiara Sukma : Dian Tandri | Suryantie | Ade Suryani | Arum Banjar Sarie | Ambar Wati Suci | Chintia Nur Cahyanti